Showing posts with label Indonesia Traditional Dance. Show all posts
Showing posts with label Indonesia Traditional Dance. Show all posts

Thursday, July 27, 2017

Akhirnya Kembali Ke Atas Panggung



Hey hey heeeeyyyy 😁😁😁,

Apa kabar? Enak? Sehat? Mantap lah kawan 😀

Kali ini gua mau bercerita tentang kesan-kesan gua belajar tari kesatriaan Sunda klasik dan tampil di acara pameran kursus kota Bekasi di Revo Town.

Yey, setelah absen 2 tahun dari panggung buat nampilin seni budaya Indonesia, gua akhirnya di kasih kesempatan buat tampil sebagai penari tari kesatriaan Sunda klasik. 

Sebenernya gua pernah nampilin tarian ini di kolong jembatan 3, Pluit, Jakarta Utara di kegiatan mengajar anak-anak kolong jembatan yang biasanya gua ikutin setiap hari Minggu. Tapi yang itu baru setengah tarian, juga gak yang serius-serius amat. Yang ini lebih serius dan greget hehehehe

Jadi sebenernya, gua tampil tari kesatriaan Sunda ini dadakan, baru di kasih tahunya hari Senin tanggal 17 Juli sedangkan tampilnya Jum'at tanggal 21 Juli. Begitu di tawarin tampil, ya udah langsung aja gua terima, kan ini yang gua tunggu-tunggu. Menampilkan seni budaya Indonesia di atas panggung.

Langsung aja gua latihan di rumah terus sebelum akhirnya gua manggung di Revo Town, Bekasi Barat. Meskipun di acara hari itu orangnya gak gitu banyak, tapi gua seneng udah bisa naik ke panggung lagi. Siapa sih yang gak seneng melakukan sesuatu yang udah jadi passionnya. Karena passion gua manggung, terutama buat seni budaya ya gua seneng-seneng aja lah.

Berikut kesan-kesan gua tampil Tari Kesatriaan Sunda Klasik di Revo Town kemaren:

1. Exciting Karena Penari Cowo Itu Langka


Terlebih lagi buat tarian tradisional Indonesia, cowo-cowo Indonesia ini kurang berminat buat belajar menari dan tampil. Well, karena masih langka, ini kesempatan gua nunjukin capability gua sebagai cowo yang punya passion di seni tari Indonesia dan juga sebagai Youtuber yang beda dari yang lain.

Dan memang jadi sensasi tersendiri buat penonton. Gimana bisa, ada cowo umur dewasa (24 tahun), lulusan S1 di Jepang jurusan International Management, tapi kok masih mau belajar dan tampil seni tari Indonesia? Itu jadi pertanyaan besar orang-orang yang nonton gua manggung.

Well, bisa gua tanya balik deh, emangnya kenapa? Latar pendidikan gua, lulusan mana, siapa gua, dan umur gua kenapa juga harus jadi faktor penghambat buat gua belajar dan nampilin seni budaya Indonesia? 

Seni budaya Indonesia itu milik bangsa Indonesia dan udah jadi tanggung jawab generasi muda Indonesia siapapun itu buat melestarikannya. Gua cuma melakukan apa yang udah jadi tanggung jawab gua untuk membangun Indonesia melalui seni budaya dan sosial media. Jadi, gak ada alasan buat gua malu belajar atau merasa terlambat karena belajar itu gak memandang umur dan latar belakang.

2. Meskipun Salah, Gak Panik


Jadi ada satu momen di tarian gua, selendang gua nyangkut di keris. Gua yang harusnya ngangkat selendang kanan-kiri ampe lengan gua, selendang kiri nyangkut dan gak bisa gua angkat ampe lengan. Tapi, gua gak panik dan kehilangan ritme tarian gua. Ya udah emang nyangkut, biarin aja nyangkut, yang penting tempo dan ritme tarian gua tetap sinkron dengan musik dan filosofi tarian itu sendiri.

Ini nunjukin bahwa gua bukan performers amatiran. Beda ya, amatir dan amatiran. Amatir itu emang bukan seseorang yang pro, tapi tertarik untuk belajar dan melakukan aktivitas itu yang membuat dia jadi pro. Kalo "Amatiran" itu identik sama orang yang ngelakuin sesuatu tanpa komitmen, dedikasi, dan kesungguhan.

Nah, gua emang belom jadi performers yang professional di bidang apapun. Tapi, gua suka banget manggung dan apapun perannya, gua gak mau tampil setengah-setengah. Kalo gua lakuin kesalahan di atas panggung, ya udah salah ya salah aja. 

Show must goes on! 

Itu prinsip yang harus di pegang sama semua performers apapun bidangnya.

3. Multi-tasking Di Uji

Penari iya. Vlogger iya. Ini gua ngerjain dua hal yang berbeda dalam satu waktu. Gua sebelum tampil, berperan sebagai vlogger di Youtube gua. Gua harus bikin konsep, ngeshoot video entah shoot gua sendiri ataupun suasana acara, tapi di saat yang bersamaan gua juga harus siap-siap manggung dan jadi penari.

Disinilah kemampuan multi-tasking gua di uji. Orang bilang jangan multi-tasking, fokus dengan apa yang harus kita kejain. Tapi kalo yang harus di kerjain ada dua dan gak ada yang bisa bantu kita gimana? Mau gak mau ya harus multi-tasking!

Gimana dong? Gua sebagai Content Creator harus ambil kesempatan emas ini buat bikin content Youtube dan Blog. Di saat yang bersamaan gua juga harus jadi penari. Ada dua yang harus gua kerjain dan gak ada yang bisa bantuin gua megang kamera. Palingan guru tari gua, itupun cuma pas gua lagi di atas panggung dan buat ngeliatin kostum tari gua. Sisanya ya gua sendiri yang ngelakuin.

Tapi disinilah uniknya seorang Audi Rahmantio. Gua bisa multi-tasking tapi fokus tetep gak buyar. Gua tetep fokus dan bisa cepet adaptasi saat gua ganti peran. Kalo memang ini keunikan gua, ya harus gua buktiin. Dan terbukti I'm fine!

Nah itulah kesan-kesan gua kembali ke atas panggung. Kalo kalian pemuda/i Indonesia, apa yang sudah kalian lakukan buat ngasih kontribusi ke Indonesia? 

Share ya kawan-kawanku

Saturday, May 27, 2017

All You Have To Know About Lenggang Nyai Dance


For Indonesian, Lenggang Nyai dance is quite popular especially those who live in Jakarta since that's where Lenggang Nyai dance come from. Lenggang Nyai dance is just one of the beautiful Betawi's traditional dance which performed by girls only.

FYI, Betawi is original tribe in Jakarta, the capital city of Indonesia. The development and modernization of Jakarta makes Betawi tribe presence become weak. Some of teenagers and millennials are even don't know that Betawi tribe is original Jakarta's tribe. So here I am try to remind you Jakarta millennials and people around the world that the capital city of Indonesia has great traditional culture especially dance art.

Last week, I went to Jakarta dance performance festival, there were 5 dance performances, all of them are Betawi traditional dance. One of them is Lenggang Nyai dance. Actually, I often seeing Lenggang Nyai dance when I was study in Ritsumeikan APU, Japan because Indonesian students performed Lenggang Nyai dance for some exchange events with local people and of course Indonesian week. So I'm familiar with the movement and music. Even my Norwegian friend can dance Lenggang Nyai dance. She's really awesome and cheerful person, I'm glad she wanted to join Indonesian week 2015 as Lenggang Nyai dancer.

Me and My Norwegian girl in Indonesian week 2015 "Malam Kenangan" event. She dance Lenggang Nyai really well. Thank you Carolina to join Indonesian week 2015
There are a lot of stories and information that people might don't know about Lenggang Nyai dance including the dancers itself. So, let me show you my research about Lenggang Nyai dance:

Created by Yogyakarta's Lady

Lenggang Nyai dance might come from Jakarta, but the creator of this dance is actually Yogyakarta's lady. In 1998, Wiwik Widiastuti created Lenggang Nyai dance because she inspired by the story of Nyai Dasimah.

Just short story about Nyai Dasimah, she's beautiful lady who live in Holland colonial era, She's confused when she had to decide who's gonna be her husband, Dutchman or Indonesian. She ended up married with Dutchman but she made wrong choice because her life and rights as woman had taken. She got violated by her husband so she decide to fight against Holland and of course her husband. She empower Batavia (Jakarta in Holland colonial) society to fight against Holland.

The "Nyai" in Lenggang Nyai dance is actually taken from Nyai Dasimah name. The word "Lenggang" means swing the body to left and right with agile movement.

Swing Your Body

As I mention before, "Lenggang" means swing your body to left and right. It shows Betawi's lady character who always be cheerful and flexible. That's why this dance only performed by girls only.

The agility of Lenggang Nyai dance can be seen from  the dynamic of body's movement, foot step, and hands.

Show Nyai Dasimah Confusion

In every Lenggang Nyai dance performance, even the versions are different, but all of them have movement that show Nyai Dasimah confusion when she had to choose her husband.

It's hard to explain by words, but when you watch Lenggang Nyai dance performance, there's movement when the dancers throw their hands to the left and right, and shake their heads. That one shows the confusion of Nyai Dasimah when she had to choose between Dutchman or Indonesian.

Combination of Chinese and Betawi Culture

For original Chinese people who understand Chinese culture, they might notice there's mix culture in Lenggang Nyai dance between Chinese and Betawi culture. The dancer's costume with green and light red and the crown are shows how Chinese culture and Betawi culture combine well. The costume also shows that the harmonization and toleration between Chinese and Betawi people.

Lenggang Nyai dance performance might looks sexy and beautiful but the dance is show more than that. The respect of Nyai Dasimah legacy and harmonization of Chinese and Betawi culture are the main element of this dance. People can modified this dance to their version, but the story and philosophy of Lenggang Nyai dance remain in every single movement.